Setelah mulai paham debit dan kredit, biasanya muncul pertanyaan berikutnya:
Terus cara nyatatnya gimana?
Di sinilah kita mulai masuk ke jurnal umum. Jujur saja, di tahap ini banyak yang mulai ragu. Bukan karena susah, tapi karena takut salah. Takut kebalik antara debit dan kredit, takut formatnya salah, atau bahkan bingung mulai dari mana. Padahal kalau sudah paham alurnya, membuat jurnal umum itu sebenarnya cukup sederhana. Yang penting tahu langkahnya, lalu dibiasakan.
Apa Itu Jurnal Umum?
Kalau dijelaskan dengan cara paling sederhana, jurnal umum itu adalah:
Tempat mencatat semua transaksi keuangan secara urut.
Setiap transaksi dicatat:
- kapan terjadi
- termasuk akun apa
- masuk debit atau kredit
- berapa jumlahnya
Jadi kalau sebelumnya kita hanya tahu transaksi harus dicatat, sekarang kita mulai masuk ke bentuk pencatatannya.
Kenapa Harus Pakai Jurnal Umum?
Beberapa orang UMKM kadang merasa: “Bukannya cukup catat pemasukan dan pengeluaran saja?”
Sebenarnya boleh saja di awal. Tapi kalau usaha mulai berkembang, cara itu tidak cukup.
Dengan jurnal umum:
- pencatatan jadi lebih rapi
- lebih mudah dilacak
- bisa disusun jadi laporan keuangan
Jurnal ini ibarat fondasi. Kalau dari awal sudah rapi, tahap berikutnya akan jauh lebih ringan.
Bentuk Jurnal Umum Itu Seperti Apa?
Biasanya jurnal umum ditulis dalam bentuk tabel.
Isinya kurang lebih seperti ini:
- tanggal transaksi
- keterangan
- debit
- kredit
Tidak perlu dibuat rumit. Yang penting jelas dan konsisten.
Langkah Membuat Jurnal Umum (Ini yang Penting)
Supaya tidak bingung, kita pakai langkah sederhana saja.
1. Pahami Dulu Transaksinya
Jangan langsung catat.
Tanya dulu:
- ini transaksi apa
- apa saja yang terlibat
- ada yang bertambah atau berkurang
Di sini biasanya jadi kunci.
2. Tentukan Akun yang Digunakan
Misalnya:
- kas
- persediaan
- utang
- penjualan
Kalau sudah tahu akun yang terlibat, langkah berikutnya jadi lebih mudah.
3. Tentukan Debit dan Kredit
Gunakan logika yang sudah dipelajari sebelumnya:
- aset bertambah → debit
- aset berkurang → kredit
Dan seterusnya.
4. Tulis ke Jurnal
Setelah jelas, baru ditulis dalam format jurnal.
Contoh Praktis (Biar Lebih Kebayang)
Kita langsung pakai contoh sederhana.
Contoh 1: Setor Modal
Anda mulai usaha dengan uang Rp10 juta.
Artinya:
- kas bertambah
- modal bertambah
Pencatatan:
Kas Rp10 juta (debit)
Modal Rp10 juta (kredit)
Contoh 2: Beli Barang Tunai
Beli stok barang Rp 3 juta secara tunai.
Artinya:
- persediaan bertambah
- kas berkurang
Pencatatan:
Persediaan Rp3 juta (debit)
Kas Rp3 juta (kredit)
Contoh 3: Bayar Listrik
Bayar listrik Rp500 ribu.
Artinya:
- biaya bertambah
- kas berkurang
Pencatatan:
Beban listrik Rp500 ribu (debit)
Kas Rp500 ribu (kredit)
Contoh 4: Jual Barang Tunai
Menjual barang Rp2 juta.
Artinya:
- kas bertambah
- pendapatan bertambah
Pencatatan:
Kas Rp2 juta (debit)
Penjualan Rp2 juta (kredit)
Kesalahan yang Sering Terjadi
Ini yang sering saya lihat, terutama di pemula:
1. Langsung Menulis Tanpa Analisis
Akibatnya:
- salah pilih akun
- debit kredit terbalik
Lebih baik lambat tapi benar.
2. Tidak Konsisten Nama Akun
Kadang pakai kas, kadang uang. Sepele, tapi bikin bingung saat direkap.
​​​​​​​3. Tidak Mencatat Semua Transaksi
Biasanya yang kecil-kecil dilewatkan. Padahal kalau dikumpulkan, jumlahnya besar juga.
Cara Biar Lebih Lancar
Kalau mau cepat terbiasa, ini yang bisa dilakukan:
- Latihan dari Transaksi Sehari-hari
Ambil contoh dari usaha sendiri:
- beli bahan
- jual produk
- bayar biaya
- Jangan Takut Salah
Semua orang pasti pernah kebalik debit kredit di awal. Yang penting diperbaiki dan dipahami.
- Gunakan Format yang Sama
Jangan ganti-ganti gaya pencatatan.
Hubungan Jurnal dengan Laporan Keuangan
Jurnal umum ini nanti akan jadi dasar untuk:
- laporan laba rugi
- neraca
- arus kas
Kalau jurnalnya rapi, laporan keuangan biasanya lebih mudah disusun.
Kalau dari awal sudah berantakan, di akhir pasti ikut berantakan.
Sedikit Catatan Standar
Dalam praktik resmi, pencatatan jurnal ini mengikuti standar seperti SAK EMKM untuk UMKM yang disusun oleh Ikatan Akuntan Indonesia.
Tapi untuk tahap belajar, tidak perlu langsung kaku mengikuti standar. Yang penting:
- logika benar
- pencatatan konsisten
Penutup
Membuat jurnal umum sebenarnya bukan soal rumit atau tidak, tapi soal kebiasaan. Di awal mungkin terasa lambat karena harus berpikir: ini masuk akun apa, debit atau kredit. Tapi setelah sering dilakukan, semuanya mulai terasa otomatis. Yang penting diingat, jurnal bukan hanya kewajiban administrasi. Justru dari sinilah kita bisa melihat alur uang dalam usaha secara lebih jelas.
Penafian Hukum:
Artikel ini disajikan murni untuk tujuan literasi dan edukasi. Peraturan dan perundang-undangan dapat berubah sewaktu-waktu. Harap konsultasikan dengan ahli pajak terdaftar Anda untuk keputusan final.